Melihat Merek D2C Berkembang di Indonesia

D2C adalah model bisnis yang melakukan proses penjualan tanpa adanya bantuan perantara atau pihak ketiga. Dalam bisnis ini, memproduksi barang, mengemas dan pengiriman dilakukan sendiri.

Dalam model bisnis ini tentu saja pelaku akan mendapatkan keuntungan lebih banyak. Dengan melakukan penjualan produk sendiri maka dalam menentukan harga produk lebih leluasa.

Keuntungan yang didapatkan dalam model bisnis D2C adalah, pelaku dapat mengidentifikasi data konsumen secara langsung. Lain halnya dengan menggunakan jasa perantara, akan lebih sulit dalam mendapatkan data tentang konsumen secara langsung. Karena dengan adanya perantara atau pihak ketiga itulah yang justru lebih mengetahui informasi terkait konsumen.

Dengan keuntungan ini banyak perusahaan modal ventura mulai melirik model bisnis ini. Bagi perusahaan modal ventura, berinvestasi di brand konsumer sedini mungkin adalah kunci untuk meraup hasil investasi sesuai harapan.

Salah satu merek D2C yang sedang mengalami peningkatan adalah Haus. Beroperasi selama setahun, minuman dari gerai-gerai Haus jadi salah satu produk yang paling populer di platform pesan-antar makanan Gojek. Pada tahun 2019, Haus bahkan meraih predikat “merchant paling inspiratif” dari GoFood.

Source: haus.co.id

Co-founder dan CEO Haus, Gufron Syarif, mengatakan “Ada beberapa yang mengontak kami. Kami sebelumnya tak pernah menghubungi para investor ini. Tampaknya performa dan perkembangan bisnis kami cukup bagus (di GrabFood dan GoFood), sehingga mereka tertarik.

Dengan adanya beberapa tawaran, akhirnya Syarif dan tiga co-founder lainnya menerima pendanaan dari BRI Ventures, yang menurut para co-founder Haus bisa menjalin komunikasi dan melakukan proses uji kelayakan dengan paling mulus.

Source: youngster.id

Di tengah situasi pandemi Covid-19 ini, ada 14 merek konsumer yang berhasil menggalang dana dari VC tahun lalu. Jumlah ini berlipat ganda dari tahun sebelumnya.

Pada semester pertama di tahun 2021, setidaknya ada sebanyak 17 perusahaan modal ventura yang menyuntikkan dana ke merek konsumer. Tren ini diprediksi akan terus berlanjut, dengan seiringnya perkembangan ekosistem bisnis yang terus mendorong para pemilik merek konsumer agar terus berupaya untuk naik ke permukaan.

Bagi kebanyakan perusahaan modal ventura, berinvestasi pada merek konsumer merupakan sesuatu yang di luar kebiasaan mereka. Namun mereka berpendapat bahwa ada beberapa alasan untuk menaruh harapan pada masa depan merek konsumer yang menggunakan model bisnis D2C.

Laporan dari Accenture, pasar layanan dan barang konsumer di Indonesia kini tumbuh enam kali lipat dalam kurun waktu 2015-2020, senilai Rp 113 triliun.

Menurut Alpha JWC ventures, Nusantara sebagai tempat yang tepat bagi peluncuran merek D2C di wilayan ini. Setelah berinvestasi pada beragam bisnis teknologi, VC yang berbasis di Jakarta ini pada tahun 2018 lalu memutuskan untuk berpartisipasi dalam penanaman modal di bisnis D2C.

Setelah mempelajari sejumlah bisnis yang meraih sukses di berbagai negara, Alpha JWC Ventures memutuskan untuk berinvestasi pada Kopi Kenangan dan produsen makanan sehat Lemonilo. Dengan ini perusahaan modal ventura tersebut menambah lima merek D2D setelah mengucurkan dana di dua perusahaan tadi.

Menurut Rafael Damar, Senior Analyst di konsultan strategi bisnis YCP Solidiance, mengatakan “Saat mulai masuk fase perkembangan, pertumbuhan merek D2C cenderung mulai melambat seiring angka CAC yang sangat tinggi. Biaya ini jadi sama dengan menyewa lokasi fisik.

Rafael juga menambahkan, perkembangan merek D2C bisa menjadi perusahaan omnichannel, yang di mana pelaku berekspansi ke sektor retail fisik. Dengan begitu, mereka akan bertranformasi menjadi perusahaan yang memiliki banyak aset.

Dapatkan berita startup dan gadget terbaru ke inbox kamu!

Baca Juga