HomeStartupPendanaanOyo Akan Go Public dan SoftBank Melepas Sebagian Sahamnya

Oyo Akan Go Public dan SoftBank Melepas Sebagian Sahamnya

Date:

Berita Terkait

Cerita Di Balik Kesuksesan Biznet Networks

Sebagai penyedia jasa internet (ISP), jaringan TV kabel dan...

Selain Karya Digital Main Game Dibayar Dengan Uang Kripto

Non-Fungible Token atau NFT, belakangan ini sedang marak digunakan...

Bank Mandiri Meluncurkan Layanan Digital Kolaboratif

PT Bank Mandiri Tbk (IDX: BMRI) tengah mengembangkan layanan...

8commerce, Startup Penyedia Layanan Terintegrasi untuk E-commerce

Bisnis e-commerce yang terus berkembang di Indonesia memang memberikan...

Oyo mengajukan prospektus yang disebut draft red herring prospectus (DRHP) dengan nilai penawaran saham publik awal sebesar 1,2 miliar dolar AS atau Rp 16,8 triliun ke badan pengawasan pasar modal Securities and Exchange Board of India (Sebi) pada akhir September lalu. Perusahaan menargetkan nilai valuasi hingga 12 miliar dolar AS atau sekitar Rp 168 triliun.

Penawaran saham publik perdana ini terdiri dari saham ekuitas baru senilai 943 juta dolar AS atau Rp 13,2 triliun serta opsi jual hingga 193 juta dolar AS atau Rp 2,7 triliun.

SoftBank sebagai pemegang 46 persen saham Oyo akan menjual sebagian sahamnya senilai 179 juta dolar AS atau sekitar Rp 2,5 triliun. Selain itu, A1 Holding milik Grab, China Lodging Holdings, dan Global Ivy Ventures juga berniat melepas sebagian saham Oyo yang mereka pegang.

Dari saham ekuitas baru senilai 943 juta dolar AS atau Rp 13,2 triliun, hampir 330 juta dolar AS (Rp 4,6 triliun) di antaranya akan digunakan untuk membayar hutang Oyo. Perusahaan ini sempat meminjam dana hingga 660 juta dolar AS pada Juli 2021 lalu dari investor institusional global. Sementara itu, 400 juta dolar AS atau Rp 5,6 triliun dari saham tersebut akan digunakan untuk mendanai inisiatif Oyo dalam berkembang.

Pandemi Covid-19 menimbulkan dampak ekonomi yang membuat pendapatan Oyo menurun. Pendapatan tahunan perusahaan turun hingga 70 persen dari 1,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp 23,9 triliun di akhir tahun fiskal Maret 2020 menjadi 534 juta dolar AS atau Rp 7,5 triliun di 2021.

Source: oyorooms.com

Pendapatan Oyo terbesar pada 2021 datang dari operasionalnya di India, Asia Tenggara, dan Eropa. Selain tiga wilayah tersebut, Oyo sebenarnya juga beroperasi di Cina, Amerika Serikat, dan juga Amerika Selatan.

Sumber pendapatan utama dari Oyo sendiri adalah hotel dan penginapan yang bermitra dengannya. Pada 2021 jumlah mitra perusahaan menurun menjadi 157.344 dari yang sebelumnya 158.176 pada 2020. Kebanyakan hotel dan penginapan ini berhenti beroperasi, atau tidak tersedia untuk dipesan pada Platform Oyo akibat kebijakan pembatasan perjalanan yang ditimbulkan oleh pandemi.

Oyo memangkas 70 persen pengeluarannya pada 2021. Langkah ini diambil pihak perusahaan demu membantu memperkecil kerugian yang diderita oleh perusahaan. Sedangkan benefit pegawai yang merupakan sumber pengeluaran terbesarnya dikurangi hingga 60 persen di 2021. Demi meningkatkan efisiensi, perusahaan juga melepas sejumlah pegawai, memusatkan beberapa fungsi utama, mengelola pendapatan, serta mengalihkan atau menutup sektor bisnis yang tidak esensial.

Selain itu, Oyo juga memangkas biaya promosi iklannya hingga 83 persen di 2021. Zomato yang merupakan salah startup India yang sama-sama go public tahun ini juga memangkas pengeluaran iklan dan pejualannya.

Prospektus Oyo memperlihatkan bahwa biaya-biaya umum administrasinya terdiri dari biaya hukum dan profesional, biaya infrastruktur IT, sewa kantor dan gudang, biaya perjalanan dan utilitas, asuransi, serta dana untuk menutupi kredit. Pengeluaran di sektor ini juga turun hingga 68,6 persen pada tahun 2021.

Subscribe

- Notifikasi ke email setiap minggu

- Gratis tanpa biaya bulanan

Terbaru