Perkembangan Traveloka dan Rencana Jadi Perusahaan Publik di 2021

Upaya Traveloka bertranformasi menjadi perusahaan publik di 2021 sudah mulai dilakukan, dari menjejaki kemungkinan marger dengan SPAC hingga menawarkan saham publik sendiri di bursa efek luar negeri.

CEO dan Co Founder Traveloka, Ferry Unardi, mengatakan upayanya menjadi perusahaan publik sebenarnya sudah menjadi salah satu opsi mendapatkan pendanaan yang sudah dikaji sejak lama. Namun, rencana itu tertunda karena adanya Covid-19.

Selain menggunakan SPAC, platform Online Travel Agency (OTA) ini mengatakan sudah menggunakan JPMorgan Chase & Co untuk pencatatan sahamnya di bursa luar negeri.

Sejak berdirinya penyedia layanan OTA pada 2012 silam, perusahaan ini telah menghimpun dana sekitar 1,2 miliar dollar Amerika Serikat atau Rp 17 triliun, melalui enam kali putaran penggalangan dana.

Pada Juli 2020 lalu Traveloka mendapat pendanaan sebesar 250 juta dolar AS atau sekitar Rp 3,6 triliun. Di mana dana yang terkumpul digunakan untuk memperbaiki neraca keuangannya yang menurun akibat dampak pandemi Covid-19 di industri akomodasi dan transportasi udara. Nilai valuasi perusahaan ini pun dikabarkan merosot 40 persen jadi 2,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp 39,7 triliun.

Source: pymnts.com

Sejak berdiri, Ferry Unardi bersama kedua koleganya dapat pendanaan dari beberapa investor. Mulai dari tahap Seed, pada tahun 2012 East Ventures mendanai Traveloka namun tidak ada pengumuman resmi dari keduanya, begitu juga saat pendanaan Series A di tahun 2013 oleh Global Founders Capital.

Pada tahap Venture-round, di tahun 2017 platform OTA ini juga mendapat kucuran dana sebesar 250 juta dolar AS, di tahun yang sama pula mereka mendapat pendanaan dari Expedia 350 juta dolar AS.

Kemudian pada tahap Late-stage, GIC Singapura menggelontorkan dana sebanyak 420 juta dolar AS pada tahun 2019, dan di tahap Down-round, 2020, Traveloka mendapat pendanaan sejumlah 250 juta dolar AS melalui Otoritas Investasi Qatar.

Sejak pandemi Covid-19, platform OTA ini mulai menggenjot layanan jasa finansialnya, sekaligus melakukan diversifikasi bisnis menuju ke arah super-app agar bisa tetap relevan bagi para penggunanya di kala industri perjalanan dan wisata sedang lesu.

Dalam usahanya untuk meningkatkan pemasukannya, Traveloka melakukan bebrapa upaya, seperti:

  1. Traveloka Online Xperience, marketplace kelas online yang berisikan berbagai macam hobi dan workshop skill yang bisa diakses dari rumah.
  2. Traveloka Eats Delivery yang diluncurkan di Oktober 2020 menghadirkan layanan pesan-antar makanan lebih dari 200 direktori restoran di kawasan Jabodetabek, Jawa, dan Bali.
  3. Traveloka Covid-19 Test. Layanan kesehatan yang dapat diakses melalui Traveloka Xperience untuk membantu pengguna memesan layanan uji tes polymerase chain reaction (PCR), rapid test antigen, dan vaksin.

Pada November 2020, sebuah survei yang dilakukan Rakuten Insight mengatakan bahwa Traveloka terpilih sebagai platform layanan OTA terpopuler di Indonesia, di mana 86 persen responden mengaku sering menggunakan aplikasi ini dalam perencanaan aktivitas perjalanan.

Kemudian diikuti oleh Tiket.com pada posisi kedua dengan responden sebanyak 57 persen, dan diposisi ketiga ada Agoda yang mengumpulkan responden sebanyak 37 persen.

Dalam upaya memperluas layanan Traveloka di Asia Tenggara, perusahaan ini juga membangun potensi sebagai salah satu penyedia layanan fintech terbesar di Asia Tenggara.

Pada tahun 2019, Danamas selaku mitra penyaluran kredit layanan paylater di Traveloka menyebut pengelolaan transaksi di platform OTA itu menyentuh Rp 500 miliar.

Seiring berjalannya waktu, penawaran layanan paylater Traveloka tumbuh melibatkan berbagai perusahaan penyalur kredit lain, seperti Caturnusa Sejahtera Finance, hingga entitas perbankan seperti BNI.

Dapatkan berita startup dan gadget terbaru ke inbox kamu!

Baca Juga