Startup Greentech yang Mulai Berkembang di Indonesia

Pada masa sekarang isu perubahan iklim tidak luput dari perhatian pelaku startup, khususnya sektor lingkungan yang tumbuh menjamur selama beberapa tahun terakhir. Dengan Mengadopsi model bisnis social enterprise, mereka tak sekedar mencari profitabilitas melalui pemanfaatan teknologi, tetapi juga mengedepankan dampak lingkungan.

Sejak 2015 hingga 2020 menunjukkan bahwa semakin banyak adanya investor yang peduli terhadap isu environmental, social, and corporate governance (ESG). Ekosistem startup yang semakin matang dengan beragam vertikal membuat aktivitas pendanaan terus meningkat, baik dari impact invenstor yang khusus mengincar startup ESG, maupun dari investor mainstream.

Bisnis pengelolaan sampah cukup menarik perhatian investor. Pada November 2014 lalu, Muhamad Bijaksana Junerosano mendirikan Waste4Change. Sano memiliki visi untuk menyelesaikan persoalan sampah secara menyeluruh dengan prinsip zero waste. Ia sudah cukup lama berkecimpung pada isu pengelolaan sampah melalui organisasi Greeneration Indonesia yang didirikan pada 2006.

Sano juga mengatakan bahwa isu persampahan semakin menjadi sorotan banyak pihak. Hal ini juga yang mendorong lahirnya banyak startup baru di sektor persampahan, dengan model bisnis yang cukup variatif.

Source: welpmagazine.com

“Aku pikir semuanya sedang mencari product market fit, karena kalau dari pengalaman kamu di lapangan, masalah sampah itu bukan masalah teknologi, tetapi ada di tata kelola sistem persampahan”, imbuhnya.

Pada akhir 2019, perusahaan baru melakukan penggalangan dana investor untuk tahap awal dan pada maret 2020, Waste4Change menutup penggalangan dana ini dengan total Rp 42,7 miliar dari Agaeti Ventures, East Ventures, dan SMDV. Di tahun yang sama, perusahaan ini juga mengakuisisi SampahMuda, startup manajemen sampah yang berasal dari Semarang.

Sano pun mengungkapkan jika perusahaannya saat ini sedang fundraising Pra-Seri A untuk mengembangkan kapasitas, memperkuat IT system, dan agresif mengakuisisi pasar.

Tidak hanya di sektor pengelolaan sampah, bisnis startup di bidang energi terbarukan pun cukup menjanjikan. Adhi Laksmanaputra selaku VP of Commercial Xurya Daya menilai sejak didirikan pada 2018, perkembangan bisnis startup di bidang energi terbarukan ini juga cukup menggembirakan. Terlebih Xurya saat ini memang fokus di segmen B2B yang perkembangan pasarnya lebih pesat dibanding segmen residensial.

Xurya menawarkan pemasangan panel surya atap di bangunan industri dan komersial tanpa invesatsi sekaligus besar. Pelanggan bisa membayar biaya jasa dan sewa yang telah ditetapkan oleh Xurya melalui platform analisis yang mereka miliki.

Perusahaan ini pertama kalinya mengantongi pendanaan tahap awal dari East Ventures dan Agaeti Ventures pada 2018. Pada 2020, perusahaan ini kembali mengantongi pendanaan lanjutan melalui Clime Capital. Dengan pendanaan tersebut, perusahaan mengembangkan usahanya ke luar Pulau Jawa.

Untuk mengoptimalkan bisnis ini, startup greentech perlu memastikan bahwa bisnis ini sustainable dan dapat meraih keuntungan. Dalam hal ini, sejumlah startup memutuskan untuk fokus pada segmen B2B atau B2B2C ketimbang B2C yang dinilai membutuhkan ongkos pengeluaran yang lebih besar.

Seperti startup yang didirikan pada 2018, yakni Jejak.in. Dengan memanfaatkan teknologi, Jejak.in milik Arfan Arlanda ini membantu perusahaan menghitung jejak emisi karbon dan menebusnya melalui proyek penghijauan yang dikerjakan bersama mitra mereka.

Dalam bisnisnya Jejak.in memiliki tiga model bisnis, yang di mana Subscription based untuk menghitung emisi karbon, Platform fee untuk fitur carbon offset marketplace, Subscription per hectare per year untuk pemantauan pohon dan hutan.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, Jejak.in bekerjasama dengan ekosistem yang lebih besar seperti Gojek dan MRT. Perusahaan juga mendapatkan dana tahap awal melalui program akselerator Gojek Xcelerate pada Juli 2020.

Menurut Sano, upaya menyentuh konsumen akhir lebih efektif dilakukan melalui skema B2B2C. Misalnya perusahaan bekerja sama dengan pengembang properti untuk pengelolaan sampah di lingkungan kompleks perumahan.

Xurya juga menyampaikan bahwa sedari awal perusahaan telah mendisain untuk meraih laba, baik dengan bantuan investor maupun mandiri. Peluang untuk mengembangkan bisnis di sektor energi terbarukan masih terbuka lebar.

Saat ini Xurya sendiri masih fokus mengembangkan PLTS atap. Namun perusahaan tengah melakukan riset dan pengembangan untuk sejumlah produk dan inisiatif baru di bidang energi terbarukan, seperti baterai listrik.

Dapatkan berita startup dan gadget terbaru ke inbox kamu!

Baca Juga