Melirik Bisnis Cloud Kitchen di Indonesia

Cloud Kitchen adalah suatu restoran dengan konsep yang menawarkan jasa pengiriman makanan saja dan tidak menyediakan layanan makanan di tempat atau dine-in. Konsep dapur model ini hampir sama dengan konsep co-working space yang saat ini memang sedang populer.

Pada umumnya, restoran yang menerapkan konsep Cloud Kitchen hanya menyediakan layanan delivery atau pengantaran yang langsung dilakukan oleh pihak restoran itu sendiri.

Namun ada juga pihak restoran yang melakukan kerja sama dengan layanan pesan antar dari pihak ketiga, seperti Go-Food atau GrabFood di Indonesia.

Konsep bisnis ini sebenarnya bukan hal yang baru lagi. Konsep restoran delivery ini sudah lama diterapkan oleh berbagai jenis perusahaan kuliner makanan pizza di dunia.

Awalnya Cloud Kitchen diterapkan di India pada tahun 2003, oleh perusahaan Rebel Foods bersama dengan Sequoia memulai bisnis pertamanya dan Fasos yang menjual ragam makanan kebab.

Di Indonesia sendiri, konsep restoran seperti ini sudah mulai diminati semenjak Grab Kitchen hadir di Indonesia pada tahun 2018 lalu.

Menurut data yang dihimpun dari Grand View Research, tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan dari bisnis dapur ini diperkirakan mencapai 20,7 persen per tahun hingga 2028 mendatang, dengan estimasi total penghasilan mencapai Rp 2,8 triliun.

Dengan naik daunnya bisnis ini para pelaku mulai berinovasi dengan memuncul kan beragam konsep yang bervariasi, dan kini bisnis Cloud Kitchen sudah mulai merembet ke sistem kemitraan, yang dimana awalnya medel bisnis Cloud Kitchen hanya lebih ke pengelolaan aset saja.

Source: landx.id

Seperti halnya Lookal Kitchen, Food Story dan Hangry yang menjalin kemitraan dengan pemilik properti untuk mengelola beberapa makanan dan minuman, baik brand milik pihak ketiga ataupun brand miliknya sendiri.

Cloud Kitchen terbilang bisnis yang menguntungkan, karena dalam menjalankan bisnis ini tak perlu modal untuk menyewa tempat, membayar pelayan, membeli peralatan untuk makan dan mendekorasi ruangan.

Dengan ini dapat terlihat bahwa biaya untuk operasional otomatis jauh lebih rendah ketimbang restoran konvensional. Dalam model bisnis ini, pelaku bisa lebih fokus dalam penyajian makanan kepada pelanggan. Selain itu kebersihan dapur dan cita rasa makanan juga menjadi fokus dalam model bisnis Cloud Kitchen ini.

Dalam membangun sebuah bisnis tentunya ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Seperti bisnis Cloud Kitchen yang tidak memiliki tempat dine-in ini misalnya, para pelaku ini harus memperhatikan lokasi yang strategis untuk dapur mereka. Meski tidak membuka retoran konvensional, lokasi tetap menjadi satu hal yang penting. Selain menentukan target pasar, pemilihan lokasi juga akan berpengaruh terhadap harga makanan yang akan dijual.

Selain tempat yang strategis, hal yang harus diperhatikan selanjutanya adalah perlengkapan pendukung untuk memasak di dapur. Pastikan peralatan tersebut memadai untuk menyiapkan seluruh menu yang ditawarkan.

Selanjutnya, ada hal yang tidak kalah penting, yaitu sistem pemesanan online dan juga pengiriman produk. Siapkan alikasi atau sistem pemesanan yang mudah dipahami oleh para pembeli. Buatlah sistem yang sederhana namun mudah di mengerti. Selain memiliki kurir sendiri, terkadang para pelaku usaha Cloud Kitchen juga mendaftarkan usahanya ke layanan online seperti GoFood atau GrabFood.

Pastikan juga merekrut staf yang handal sepeti, manajer, kepala dapur dan koki, marketing dan petugas kebersihan.

Yang terakhir, gunakan sistem Point of Sales (POS) untuk mempermudah pembayaran. Sistem pembayaran ini dapat diakses dimana saja asalkan ada koneksi internet.

Para pelaku usaha juga akan lebih mudah memantau seluruh transaksi yang keluar dan masuk, termasuk data pembayaran yang dilakukan oleh konsumen.

Dapatkan berita startup dan gadget terbaru ke inbox kamu!

Baca Juga