Kopi Kenangan Berkembang Pesat dan Memimpin Persaingan di Indonesia

Kopi Kenangan cukup berkembang dengan pesat, pada tahun 2019 lalu. Pendapatannya mereka mencapai Rp 314 miliar atau 13 kali dibandingkan tahun 2018. Pembukuan tersebut mencatatkan keuntungan sebesar Rp5,6 miliar sebelum pemotongan pajak. Angka tersebut juga meningkat hampir lima kali lipat.

Pada tahun 2019 Kopi Kenangan jelas ingin mengakselerasi perkembangan mereka. Namun Covid-19 memaksa perusahaan ini mengambil rute yang lain.

Kopi Kenangan mungkin akan menuai rugi di tahun 2020. “Meskipun kami tetap menuai profit sepanjang tahun 2020, kami tetap menerima kenyataan pandemi dan tidak menyangka akan tetap bisa produktif”, ungkap juru bicara Kopi Kenangan.

Dalam menghadapi situasi ini, Kopi kenangan harus lebih berpikir dan mengubah taktik mereka. Data Kopi Kenangan memperlihatkan bahwa di daerah pusat bisnis, mobilitas sangat dibatasi dan masyarakat lebih suka memesan makanan dan minuman dari gerai di dekat tempat tinggal mereka. Karena itulah Kopi Kenangan menyasar gerai di area pemukiman, dan gerai-gerai tersebut menunjukkan performa yang luar biasa dan melebihi pendapatan mereka sebelum pandemi.

Namun strategi ini bukanlah strategi untuk jangka panjang dan Kopi Kenangan juga berusaha meningkatkan produktivitas pegawainya dan penjualan online. Dengan ini Kopi Kenangan mengklaim kedua pendekatan tersebut berakhir sukses.

Pada 2020 lalu Kopi Kenangan berhasil mengantongi pendanaan seri B yang dipimpin oleh Sequoia Capital. Dimana, ini menjadikan total pendanaan mereka kini mencapai Rp 2 triliun.

Hal ini sangat terlihat jauh berbeda dengan pesaingnya, Fore Coffee yang baru mengantongi Rp 139 miliar di tahun yang sama.

Jika dilihat lebih dalam lagi ada beberapa faktor yang membuat Kopi Kenangan berkembang sangat cepat. Mereka menyediakan minuman dengan harga terjangkau untuk pasar yang masif dan memiliki kemampuan ekonomi yang cukup kuat, terutama terkait biaya sewa.

Source: tagar.id

Berbeda dengan perusahaan yang mengembangkan usahanya dengan teknologi baru, Kopi Kenangan lebih fokus pada model bisnis yang sudah terbukti menguntungkan.

Kopi Kenangan memiliki ambisi untuk menyediakan minuman berkualitas dengan harga lebih murah. Namun disisi lain mereka juga menawarkan makanan dan produk merchandise lainnya yang menambah keunggulan mereka.

Kopi Kenangan sudah melebarkan sayapnya ke sektor makanan, khususnya camilan seperti roti atau makanan penutup. Merchandise pun mereka jual seperti kaus dan tumbler kopi.

Selain harga, dan produk yang dijual, ada faktor lain juga yang patut di perhatikan, ialah biaya sewa. Pemodal ventura dari sebuah perusahaan regional besar yang belum pernah berinvetasi ke bisnis kopi mengatakan, jika biaya sewa tidak dikelola dengan baik, hal itu bisa membunuh bisnis kafe kopi dalam sekejap.

Edward Tirtanata, selaku CEO Kopi Kenangan mengatakan, biaya sewa kedai-kedainya memakan sekitar 6% hingga 8% dari pendapatan perusahaan. Mereka juga tidak menyediakan tempat duduk untuk pelanggan. Dengan cara ini, mereka bisa menghemat biaya sewa, penghematan ini juga digunakan untuk menawarkan minuman dengan harga murah.

Lain halnya dengan Fore Coffee, kedua perusahaan kopi ini memiliki pendekatan yang berbeda. Fore Coffee cukup memperhatikan pelanggannya dengan menyediakan area tempat duduk di banyak outletnya, bahkan jauh lebih banyak dibandingkan Kopi Kenangan. Mereka juga mengandalkan teknologi dan model grab-and-go.

Edward juga menambahkan, semakin besar properti yang disewa, maka persentase biaya sewa pun bisa melonjak hingga dua digit dari pendapatan.

“Ini tidak sepenuhnya buruk, hanya perbedaan pilihan saja”, katanya. “Kalau mereka bisa meraih pendapatan lebih tinggi karena ruang yang lebih luas, tentu saja itu hal yang baik”.

CEO Fore Coffee Elisa Suteja berkata, hanya 10% dari outlet mereka yang memiliki area tempat duduk cukup besar.

Pandemi Covid-19 tentu saja memberi dampak kepada dua pemain ini. Fore Coffee terpaksa harus menutup secara permanen 16 outlet pada bulan April lalu dan menutup sementara 45 outlet lainnya selama bulan Ramadan. Sama halnya dengan Kopi Kenangan yang juga menutup sementara atau mengurangi jam operasional 150 outlet mereka. Jumlah tersebut sekitar setengah dari total outlet yang mereka miliki.

“Efek krisis ini sungguh besar untuk bisnis ritel F&B”, kata Elisa. “Menurut saya, menutup sejumlah outlet bukanlah hal yang buruk. Ini adalah keputusan bisnis yang memang harus diambil.

Setelah melihat perbandingan biaya sewa antara dua pesaing kopi diatas, masih ada hal yang harus diperhatikan kembali, yakni harga dan posisi pasar. Ini akan menjadi salah satu perbandingan yang penting juga untuk dibahas.

Pada awalnya Fore Coffee menempatkan dirinya pada pasar premium, dimana harga secangkir es kopi americano dibanderol seharga Rp 35.000. Harga ini kurang lebih sama dengan harga kopi di Starbucks.

Sebaliknya, Kopi Kenangan dan banyak merek kopi lainnya justru menyediakan kopi susu buatan sendiri dengan campuran kopi, susu, dan gula aren dengan kisaran harga mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 18.000.

Dengan ini, Fore Coffee membuat beberapa penyesuaian agar lebih sejajar dengan pesaingnya, fokusnya dalam hal harga dan posisi pasar. Mereka mulai memangkas harga kopi mereka sebanyak 40%. Meski Fore Coffee telah melakukan penyesuaian, nampaknya tak semua hal bisa diubah. Karena mereka memiliki cangkir yang berkualitas dan didesain dengan baik. Tapi dengan harga jual demikian, berapa besar margin yang bisa mereka peroleh?

Tidak seperti kebanyakan perusahaan yang menggunakan teknologi, model bisnis seperti ini sebenarnya sudah ada dan terbukti, Pemodal ventura bisa langsung menyuntikkan dana untuk ekspansi bisnis. Menurut Edward, ini merupakan daya tarik Kopi Kenangan pada kalangan investor dan bagaimana akhirnya mereka berhasil mengumpulkan dana di tengah krisis Covid-19.

“Intinya, kami tidak mau membakar uang, bahkan saat pandemi pun kami tidak membakar uang sebanyak itu. Kami punya runway yang panjang dan investor tahu tak ada solvabilitas atau masalah yang terjadi.

Kopi Kenangan berhasil meningkatkan bisnis yang menguntungkan. Dalam hal ini artinya setiap outlet mereka sudah bisa menghasilkan profit. Mereka bisa mengidentifiasi lokasi dengan baik, strategi mereka untuk meningkatkan bisnis terbilang sukses.

Memilik Sequoia Capital sebagai investor adalah sebuah langkah yang baik, karena mereka dapat benar-benar mengubah permainan pasar dan lainnya. Ini menjadikan bahwa kafe kopi adalah sebuah investasi yang layak diperhitungkan.

Dapatkan berita startup dan gadget terbaru ke inbox kamu!

Baca Juga