Tantangan Industri Game di Indonesia Menurut AppsFlyer

0
286
AppsFlyer

Belum lama ini AppsFlyer menerbitkan laporan yang bertajuk “Status Pemasaran Aplikasi Game 2018” yang mengungkapkan mengenai persentase dan pemetaan tren aplikasi game seluluer di Indonesia termasuk di pangsa pasar Asia demi mendorong peningkatan pendapatan.

Laporan AppsFlyer menyebutkan bahwa kategori Midcore & Strategy yang mencakup game petualangan, aksi, simulasi, permainan peran, arcade dan balap, serta game strategi mendominasi iklan game dengan persentase 62%.

Berdasarkan persentase pengguna membeli game, laporan ini juga menyebutkan bahwa salah satu tantangan industri game di Indonesia yaitu meningkatkan jumlah pendapatan, terutama dengan rata-rata konversi 1% pada hari ke-90 yang dinilai masih cukup rendah.

Ronen Mense selaku President & Managing Director, APAC di AppsFlyer menyatakan bahwa, “Dengan adanya ribuan pesaing, kemampuan aplikasi game mobile Indonesia dalam usaha mendatangkan keterlibatan pemain dari waktu ke waktu masih terbilang sulit. Tanpa menggunaan berlanjutan, aplikasi game tidak dapat meningkatkan pendapatan layak, baik dari pembelian melalui in-app ataupun melalui iklan in-app”, ujarnya.

Berdasarkan laporan AppsFlyer diungkapkan bahwa transaksi pembelian di dalam game untuk pengguna Android rata-rata sekitar Rp.4 ribu, sedangkan untuk pengguna iOS dengan Rp.6 ribu.

Ronen juga menambahkan, “Meskipun secara keseluruhan angka retensi masih masih terbilang rendah, Indonesia memiliki sejumlah aplikasi yang bisa diprediksi akan sukses dengan unduhan yang banyak. Jumlah tersebut dapat mengoptimalisasi target dari aplikasi yang berkompetisi”, lanjutnya.

Pasar industri game Indonesia memang memiliki angka retensi yang rendah dibanding dengan negara-negara maju lainnya seperti Jepang, Amerika Serikat, Jerman, atau Inggris. Bahkan angka retensi untuk para penggunanya di Indonesia pun dua kali lebih rendah dari negara-negara tersebut.

Pengguna cenderung berkemungkinan 3,5 kali lebih besar untuk menjadi pengguna berbayar untuk pasar maju dibanding berkembang. Jepang dan Australian merupakan negara di pasar maju yang secara konsisten selalu masuk dalam 3 kategori teratas dalam pembelian in-app dengan rata-rata persentase yaitu 3,5%, sedangkan pasar negara berkembang hanya memiliki tingkat persentase konversi sebesar 1%.

Untuk itulah industri game Indonesia akan lebih mengoptimalisasi pada aplikasi game yang memiliki daya saing tinggi, didukung dengan kemajuan teknologi smartphone yang juga semakin canggih, akan membuat berbagai kategori game khususnya kategori midcore & strategy memiliki peluang cukup besar untuk lebih berkembang lebih jauh di pasar game Asia.

Beri Komentar