Botika, Startup Chatbox Asal Yogyakarta untuk Bisnis Travel dan Social Commerce

0
790

Perkembangan teknologi chatbox mengalami perkembangan yang cukup pesat saat ini. Sejumlah startup yang memanfaatkan teknologi ini pun turut hadir di Indonesia, seperti Kata.ai dan BangJoni yang telah meluncurkan berbagai produk. Terbaru adalah Botika, startup chatbox asal Yogyakarta yang fokus pada bisnis travel dan social commerce. Layanan chatbox ini bisa menangani pertanyaan atau keluhan yang disampaikan melalui aplikasi chat Facebook Messenger, LINE, atau Telegram.

“Sebagus dan semudah apa pun sistem yang ada, banyak pelanggan yang tetap ingin melakukan kontak dan minta dilayani secara manual oleh customer service. Hal ini menjadikan para petugas customer service tersebut menjadi kewalahan,” ucap Founder Botika, Ditto Anindita dilansir Tech in Asia Indonesia, Rabu (4/10/2017). Sebagai langkah awal, mereka fokus memberi solusi dalam bisnis penjualan tiket. Selain itu, Botika juga mulai bekerja sama dengan banyak perusahaan nasional lain.

Bahkan, mereka juga sudah menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan besar di luar bisnis pemesanan tiket untuk membangun layanan chatbot. “Beberapa perusahaan nasional yang bekerja sama dengan kami adalah Bank Bukopin, PPOB Nusantara, serta beberapa perusahaan lain di bidang operator seluler dan penyedia layanan call center,” tambah developer yang sebelumnya juga pernah mendirikan situs agregator tiket dalam bidang business to business (B2B) dengan nama OkeTiket ini.

Fokus lain yang juga disasarnya adalah social commerce, alias transaksi jual beli online yang terjadi lewat media sosial, seperti Facebook, Instagram, hingga aplikasi chat seperti WhatsApp. Layanan ini pun dapat mempermudah para penjual online dalam melayani setiap pelanggan masing-masing. Meski sudah ada startup chatbox di bisnis social commerce yakni PrismApp, namun Ditto tetap yakin bersaing dengan keunggulan layanan tambahan, seperti sentiment analysis, hingga user profiling.

“Saat ini kami pun terus melakukan training pada chatbot Botika agar mereka memahami berbagai bahasa yang digunakan masyarakat Indonesia, mulai dari bahasa baku, bahasa daerah, bahasa alay, bahasa slang, hingga singkatan,” lanjutnya. Ditto pun mengklaim layanan mereka sudah memiliki 5,7 juta pengguna, yang merupakan total semua perusahaan yang telah bekerja sama dengan Botika.

Sejauh ini, Botika sendiri memang masih beroperasi dengan cara bootstrapping atau dana pribadi dari para founder yang berjumlah empat orang; yakni Vita Subiakto, Galuh Koco Sadewo, dan Prima Yoga Kharisma, selain Ditto. Namun, mereka mulai berkembang dengan tim berjumlah 10 orang, dan mendapat penghasilan dengan memberlakukan biaya untuk setiap percakapan yang dilayani Botika.

Beri Komentar