Kisah Di Balik Kesuksesan Startup BukaLapak.com

0
1749
bukalapak - webhouzz

Bagi Anda yang punya hobi atau usaha jual beli online, pasti kenal dengan nama BukaLapak.com. Situs marketplace ini belakangan mencuri perhatian banyak orang, sehingga menjadi salah satu wadah transaksi jual beli online terbesar di Indonesia. Namun, perjalanan startup yang satu ini hingga menjadi banyak dikenal orang, tentu tak semudah seperti yang kita lihat pada saat ini.

Achmad Zaky yang mendirikan startup BukaLapak.com ini punya cerita perjalanan yang panjang, hingga sekarang situs marketplace itu tumbuh sebagai salah satu yang terbesar dan terpercaya di Tanah Air. Pria asal Sragen, Jawa Tengah itu sudah pernah merasakan jatuh bangun dalam berbisnis, sebelum akhirnya sukses dengan BukaLapak.com. Berbagai jenis usaha pun pernah dijalaninya.

Dengan minat wirausaha yang sudah ada sejak kecil, Zaky sempat mencoba berjualan kaos sablon saat duduk di bangku sekolah menengah. Ketika nasib mengantarkannya berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), dia pun semakin merasakan semangat entrepreneurship yang besar. Di tahun kedua studinya, Zaky mencoba membuka warung mie ayam. Sayangnya, usaha itu gagal.

Namun, dia tak berhenti sampai disitu. Usaha selanjutnya yang dia coba adalah bidang computer, dengan memanfaatkan pengetahuannya sebagai mahasiswa Teknik Informatika. Bersama beberapa orang temannya, Zaky mendirikan startup SMS mobile software dan web development bernama Deft Technology. Meski berkembang pesat, namun dia harus memilih fokus menyelesaikan kuliah.

Tetapi, usaha Zaky untuk membangun startup tak pernah berhenti. Berangkat dari kesuksesan Deft Technology, dia dan timnya membentuk sebuah perusahaan yang diberi nama Suitmedia, yang saat ini masih berjalan dan bisa dilihat pada sitis www.suitmedia.com. Perusahaan ini menawarkan jasa konsultasi dan tim kreatif di bidang teknologi komputer, dengan BukaLapak.com sebagai portofolio.

Bermula dari tahun 2010, ternyata di luar dugaan BukaLapak.com yang hadir sebagai sebuah bisnis software as service ini malah menarik perhatian investor untuk dikembangkan menjadi bisnis e-commerce. Zaky sendiri sebelumnya sempat beberapa kali mendapat penolakan saat mengajukan proposal fundraising ke beberapa investor, meski permohonan investasinya hanya Rp 100 juta.

Pada akhirnya, Batavia Incubator (batavia-incubator.com) yang menjadi investor untuk membantu pendanaan BukaLapak.com. Pada pertengahan tahun 2011, perusahaan e-commerce dari Jepang itu menyediakan dana investasi sebesar 300.000 dolar Amerika Serikat. Peluang yang ditawarkan oleh BukaLapak.com dalam sector e-commerce Indonesia itu pun terus berkembang hingga saat ini.

Lalu, apa nilai lebih yang dimiliki oleh BukaLapak.com? Secara sekilas, situs marketplace ini memiliki konsep yang hampir sama dengan situs-situs e-commerce lainnya yang memfasilitasi transaksi jual beli online di Indonesia. Saat itu, di Tanah Air sudah ada Kaskus.com (sekarang Kaskus.co.id) yang lebih dulu muncul, dan lalu disusul oleh TokoBagus.com dan Berniaga.com (sekarang olx.co.id).

Namun, BukaLapak.com kemudian hadir dengan menawarkan keamanan dan kepercayaan bagi para customer dalam melakukan transaksi jual beli online. Jika sebelumnya banyak muncul kasus penipuan dalam bisnis ini, maka BukaLapak.com datang untuk memfasilitasi perlindungan terhadap pihak penjual dan pihak pembeli, dengan menciptakan sistem transaksi jual beli online yang aman.

BukaLapak.com mensyaratkan seluruh proses transaksi dan pembayaran melalui sistem mereka, yang tentu mereka jamin keamanannya. Dalam prosesnya, pembeli melakukan pembayaran melalui rekening BukaLapak.com, dan kemudian mengkonfirmasikannya kepada penjual. Setelah barang dikirim dan diterima oleh pembeli, barulah BukaLapak.com mencairkan dana hasil penjualan tadi.

Sistem ini dikenal dengan nama Marketplace C2C, atau istilah Rekening Bersama (Rekber). Pada perkembangannya saat ini, sudah banyak berkembang bisnis serupa, termasuk salah satunya Tokopedia.com. Namun, Zaky melihatnya sebagai kompetisi yang bagus bagi perkembangan startup di negeri ini. “Pada dasarnya, bukan lagi masalah BukaLapak versus Tokopedia atau OLX, tetapi bagaimana membangun ekosistem digital Indonesia bersama-sama,” ujar pria berkacamata itu.

 

(Ditulis oleh Ade Marza)

Beri Komentar